Jumat, 21 Oktober 2016

RD 649 (1)

Kisah ini dimulai di tahun 2030 saat zaman semakin modern.

Jakarta, 01 Januari 2030
Sebuah perusahaan modern zaman ini sedang mengembangkan suatu inovasi baru, yaitu sebuah robot. Pemimpin sekaligus ilmuan dalam perusahaan yang bernama VierCorporation adalah seorang bocah genius yang ingin mewujudkan ideology nya yang sedikit irasional, yaitu menciptakan dunia yang tanpa kematian. Ideology sang bocah genius didasari oleh masa lalu yang cukup kelam, dimana saat ia lahir ia tidak pernah bertemu dengan orang tua nya. Masa kecil bocah ini hanya bersama kakek dan mainan robot nya.

Pada dasar nya ideology bocah genius ini tidak lah buruk, sampai pada sebuah bumbu-bumbu yang meracuni fikiran nya. Bocah genius itu bernama Fandri Ivansyah usia nya masih 27 tahun. Di Indonesia sendiri VierCoporation lah perusahaan tunggal pencipta robot, tujuan awal VierCorporation adalah membantu manusia dalam pekerjaan nya. Rasa lelah yang tidak dirasakan robot adalah modal dari perusahaan ini, para robot dipekerjakan untuk merawat manula dipanti jompo, atau bekerja di resto cepat saji yg sekarang buka 24 jam nonstop.

Para robot di ciptakan tanpa rasa cinta dan lelah, hanya sedikit orang tahu identitas para robot. Tidak sedikit diantara para robot yang menyamar dengan kuliah, anak kost atau lain sebagai nya. Ada yang diprogram menjadi si genius, si lambat, si pelupa, dan banyak karakteristik lainnya namun sebenarnya hal itu adalah kamuflase. Sang robot tidak bisa makan dan minum dan tidak bisa bertolak belakang dengan karakteristik yang sudah di program oleh VierCorpotaion. Para robot awal nya diciptakan dengan sandi dan tentu saja untuk bersosialisasi dengan masyarakat para robot punya identitas palsu yang sudah diprogram untuk diingat, seperti nama, tanggal lahir dan hal yang manusiawi lain. 

RD 649 adalah salah satu dari beberapa juta robot yang diciptakan ViCo, nama socialnya adalah Ardian Prasetyo. Seorang mahasiswa biasa yang untuk mencukupi kehidupannya dia harus bekerja sambilan di resto cepat saji. Itulah program awal dari ViCo. Ardian Prasetyo tinggal di sebuah kost-kosatan pria dan pasti nya lingkungan sekitar tidak tahu identitas Ardi yang sebenar nya, atasan tempat ia bekerja pun tidak tahu yang sebenarnya. Tidak ada yang tahu bahwa Ardi adalah seorang robot ciptaan bocah genius di VierCorporation. Seperti hal nya manusia lain, Ardi tidur, kuliah, bekerja, berpakaian dan berbicara seperti manusia lain namun yang berbeda adalah Ardi tidak makan dan minum dan saat dia tidur ada kabel yang terpasang ditubuh nya, untuk menchager tubuh nya


02 Januari 2030

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggggg
Jam weker kamar Ardi berbunyi, dengan mata setengah terbuka ia melirik ke jam nya
“Ah sudah jam 7? Selama itu kah saya tertidur?” Tanya nya pada diri sendiri. Ardi mencabut chagernya, berganti pakaian dan bersiap pergi ke kampus. Tepat jam 9 Ardi sudah siap pergi.
“Morning Di” sapa Benny
“eh, morning… lu udah mau otw? Tanya Ardi
“iya nih, gue mau ke tempat nyokap dulu tapi. Lu ga sarapan dulu? Udah dibikinin nih sama Ibu”
“Ngga deh, gue buru-buru nih” sanggah Ardi “Yaudah gue cabut ya”
“Sip”
Begitulah Ardi saat ditawari makan atau minum oleh temannya, pernah sewaktu waktu ia makan makanan yang ditawarkan. Akibat nya 2 hari Abie harus ke ViCo reparasi untuk membetulkan bagian-bagian nya yang rusak, semacam rumah sakit bagi manusia normal.
Saat dikampus, Ardi pun terlihat normal belajar, ngobrol dan mengerjakan tugas walaupun dia memang sedikit lebih menonjol diantara mahasiswa lain.
“Excellent Ardi, lanjutkan!” kata-kata itu lah yang sering di dengar saat di Kelas Ardi.
“Eh lihat deh tik, si Ardi pinter yah!” seru Ana
“Kebetulan aja kali Na! Soal begitu gue juga bisa!” balas Tika
“Ah elo sirik aja kali sama Ardi, dia tuh ganteng, pinter, rajin lagi…” puji Ana
“Heh, apa beda nya sama gue, gue juga cantik, pinter juga, gue juga rajin” seru Tika tidak mau kalah
“Hah? Nyokap lo doang yang bilang lu cantik….” Ejek Ana

Saat istirahat
“Tikaaaa, duduk disitu aja yuukk” ajak Ana
“Ah gue mau beli baso di ujung sana” tolak Tika
“Ihh, disitu aja” pinta Ana sambil menarik tangan Tika, sehingga mau tidak mau Tika ikut ajakan Ana
“Hai” seru Ana
‘Oh pantas Ana ngajak duduk disini, ada Ardi toh’ ucap Tika dalam hati, sepertinya Tika merasa bahwa sahabatnya ini sedang jatuh cinta
“Hai” balas Ronald
“Gue boleh gabung kan Nal, Sat, Ardiii…?”Tanya nya manja
“Boleh aja” jawab Satria. Segera saja Ana duduk persis di sebelah Ardi.
“Kenalin, gue Ana” katanya pada Ardi, Ardi, Ronald dan Satria bukan tidak mengenal Ana namun hanya saja Ana ingin Ardi lebih mengenalnya karena Ardi jarang sekali bicara
“Ardi” jawab nya sambil menjabat tangan Ana
“Dan ini temen gue, Tik..”
“Atika Ningsih, mahasiswi Semester 4 jurusan Design Grafis sama kayak gue. Lahir di Jakarta, 23 Desember 20 tahun yang lalu. Lulusan terbaik di SMA nya dulu, juara pertama Aikido seDKI. Makanan kesukaannya baso, warna kesukaaan nya merah. Sebenernya lu sekarang lagi laper banget mau makan baso di ujung, soal nya tadi pagi lu Cuma makan roti bakar yang dijual didepan sekolah adik lu. Benar atau salah?” belum sempat Ana memperkenalkan Tika sudah dipotong kata-katanya oleh Ardi. Semua diam, hening. Ardi yang dikenal diam, jarang dekat sama wanita sekarang tau biodata seorang Atika??.

“Heh, lu browsing tentang gue ya?!! Atau jangan-jangan lu ngikutin semua kegiatan gue??!!! Lu mata-mata ya?!!!” tuduh Tika
Ardi hanya diam, semua ia ingat saat perkenalan saat ospek dulu dan memindai memori Tika dalam 24 jam terakhir. Dan tak mungkin Ardi jawab bahwa ia hanya menganalisis Tika dari program yang dibuat ViCo.
“Cabut yuk Na, males gue ada penguntit!!” seru Tika sambil menarik lengan sahabatnya itu dan mereka pun pergi
“Kok lu bisa tahu Di??” Tanya Satria
“Hmph, sebener nya gue pas berangkat liat dia di depan sekolahan adiknya” jawab Ardi sekenanya

Saat jam kuliah selesai Ardi segera pergi untuk kerja sambilan di kawasan Mampang. Dia pun bekerja seperti manusia lain, hanya saja tidak perlu istirahat banyak. Hari itu pengunjung sangat ramai dan Abie tidak menyangka bertemu Tika di tempatnya bekerja.
“Tika?” Tika menoleh
“Eh, penguntit?? Ngapain lu disini?” hardik Tika
“Tolong, jangan sebut saya seperti itu karena itu bukan nama saya” ucap Abie
“Gue sedang kerja disini” bisik Abie
“Oh lu kerja sambilan juga?” Tanya Tika
“Emang lu juga?”
“Iya tapi hari ini gue off” jawab Tika
“Oke deh, gue lanjut kerja ya” pamit Abie
Malam semakin larut, Tika bermaksud pamit pada temannya itu.
“Ardi..” bisik nya agak pelan, Ardi menghampiri nya
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya nya
“Ih, ga usah kaku gitu sama gue….”
“Hmm… Gue kan disini kerja, jadi harus professional” jelas nya
“Gue pamit pulang yah, udah malem juga nih. Kok lu belum pulang?” Tanya Tika
“Belum, nanti jam 1 pagi gue baru balik” jawab Abie
“Hah? Terus pagi nya lu langsung ke kampus?”
“Yup”
“Ga capek apa? Hmph jangan-jangan lu robot ya?”
“Ya begitulah… hehhehehhe” jawab Ardi sekena nya
“Yaudah gue balik ya” kata Tika sambil bangun dari kursinya
“Eh, lu bener-bener ga capek ya? Kok lu ga keringatan sih? Hebat banget lu Di….” Puji Tika. Yah begitulah Ardi, tidak mungkin ada air keringat yang keluar dari kulit besi yang tanpa pori-pori tersebut.
“ah, biasa aja” elak Ardi  “Nih udah malem, ga apa lu pulang sendiri? Perlu gue anter ga?” Ardi menawarkan diri
“Ga usah lah, lagian lu kan masih kerja” tolak Tika secara halus
“Yaudah, hati-hati”

Tika pun berlalu, sampai Tika menghilang dari pandangan Abie, Abie masih menatap nya. Abie hanya menarik nafas panjang. Tepat jam 1 malam Abie pulang, ia tidak segera mencharge tubuh nya, melainkan mengerjakan tugas kemarin. Dalam ViCo, Abie termasuk produk unggulan yang sempurna, semua di program tanpa ada celah.
Jam 09:00 esok hari nya, Abie sudah tiba di kampus.
“Pagi Ardi” Sapa Ana
“Pagi” balas Ardi singkat, kemudian ia membalas senyum Tika dan saling pandang untuk beberapa detik sampai Ana menarik tangan Tika
“Apa-apaan sih lu Na?!” hardik Tika
“Nah lu kenapa senyum-senyum sama Ardi? Kata lu, lu ga suka sama dia, dia penguntit dan bla bla bla….” Cetus Ana
“Heh, emang kalo gue senyum arti nya gue suka gitu?? Terus noh setiap orang gila kalo senyum ke elu, artinya dia suka gitu??” balas Tika tidak mau kalah
“Ya… ga gitu juga sih sebenernya” jawab Ana sambil menggaruk kepala
Hari ini entah mengapa selama pelajaran berlangsung, beberapa kali Tika melirik ke Ardi. ‘Hmm emang bener sih, Ardi tuh pinter, rajin, pekerja keras pula dan kayak nya dia juga gentle… kalo diliat-liat, muka nya juga ga jelek, yah lumayan lah eh ga deh, lebih dari lumayan. Gantenggggg’ gumam Tika dalam hatinya. ‘Ah…. Apa-apaan sih Tikaaaaa!!!!! Buat apa gue liatin orang begitu? Heeeeloooowww???’
Saat pulang, Ana mengajak Ronald, Satria, Ema, Risa, Ardi dan Tika untuk nongkrong sambil membicarakan bisnis online nya dengan Ema dan Risa
“Lu pesen apa Di?” Tanya Satria
“Hm Kopi aja” jawab Abie
Semua asik mengobrol saat itu, hanya Ardi yang asik mendengarkan music menggunakan earphone, seolah tidak tertarik dengan pembicaraan yang ada. Sementara itu Tika sejak tadi memperhatikan Ardi.
‘ih, orang lagi ngumpul-ngumpul gini malah dengerin lagu? Sok cool banget nih orang!! Ga ada rasa peduli nya sama sekali!’ gumam Tika. Sambil mengomel dalam hati nya tika terus memperhatikan Ardi, sampai-sampai…

“Eh liat tuh Tika, daritadi ngeliatin Ardi muluu… Jangan-jangan dia naksir lagi…” seru Satria
“Bentar, nih gue test bener ga dia naksir sama Ardi” kata Ana sebagai sahabat Tika yang sudah kenal betul dengan semua sifat Tika
“Ka..?’” panggil Ana
“Ya..?” Tika menjawab, tapi tanpa menoleh
“Lu udah makan?” Tanya Ana
“Udah” jawab Tika, dan lagi-lagi tanpa mengalihkan pandangan nya dari Ardi
“Makan Ardi ya?” Tanya Ana lagi
“Ya… mungkin” jawab Tika
“Nah bener kan, Tika emang lagi kesemsem sama Ardi!” Seru Ana
“hahahhah, ternyata selera nya Tika begitu yah…”seru Ema
“Ya lumayan lah seleranya….” Sambung Risa
“Eh jarang loh Tika suka sama cowok…” ejek Ana
“Heh, jadi maksud lu gue lebih sering suka sama cewek gitu??!!!!” akhirnya Tika sadar kalau ia sedang jadi bahan ejekan teman-teman nya dan mereka pun tertawa, kecuali Ardi, ia masih santai mendengarkan lagu-lagu.

Tak lama mereka pulang, “Na, naik apa nih? Mana ada angkot lewat sini?” Tanya Tika. Rupa nya Ana punya rencana untuk Tika
“hhhheemmmmm, gue pulang bareng Ronald aja..” Seru Ana sambil menyenggol lengan Ronald
“Lah gue sendiri dong nih??”
“Sama Ardi aja..” Celetuk Risa, Degggg hati Tika berdegub membayangkan ia akan pulang bareng Ardi
“Aaahh.. emm… Ga usah lah, nanti ngerepotin” tolak Tika
“Ga kok, gue ga keberatan” jawab Ardi singkat
“Nah… beres kan!” Seru Ana, “Eh bentar-bentar….  Ada yang liat Hp gue ga?” Tanya Ana panik. Semuanya saling pandang dan menggelengkan kepala.
“Emang lu taruh mana?” Tanya Tika
“Nah iitu dia, gue lupa…” jawab Ana, 
“Di, pinjem Hp nya dong. Gue mau miscall in Hp gue, boleh ga?” Tanya Ana
“Silahkan aja” kata Abie, sambil memberikan Hp nya untuk di pakai Ana. Ana pun segera memanggil nomer yang ia tuju, namun yang berdering malah……
“Eh, bentar Hp gue ada telepon” kata Tika “Nomer siapa nih?” Tanya Tika
“Ituu nomerrr Ardi, Tiiikkaaaa…!! Di save yaaaahh” kata Ana keras-keras, wajah Tika seketika itu juga jadi memerah padam
Akhirnya Tika pulang diantar oleh Ardi. Selama perjalanan pulang baik Ardi dan tika tidak bicara.
‘Duh, gue harus ngobrol apa yah?? Hey bro! rumah lu dimana sih? Ahh nggak-nggak! Terlalu sok akrab… hmmm… ganteng… Rumah kamu dimana say?? Uuueeeeeekk, Jijay ah….’
“Rumah kamu dimana emang?” Tanya Ardi tiba-tiba, memecahkan lamunan Tika
“Eh.. Oh.. di.. di Jalan baru” Jawab Tika ‘Gila nih cowok! Aura nya besar banget!! Gue sampe dibikin gelagapan gini!’ resah Tika
“Ga nyaman ya sama motor nya? Padahal motor nya udah bersih kok” kata Ardi
“Ah.. bukan gitu, gue Cuma… hmmmm apa ya…” Tika tidak dapat merangkai kata dengan tepat saat bicara dengan Ardi
Ardi hanya tersenyum
Tepat di depan rumah Tika, Ardi memberhentikan motor nya
“Disini? Abie memastikan
“Iya” jawab Tika
“Yaudah, gue langsung balik ya” pamit Ardi
“Hmmm ii..iya” jawab Tika
Setelah motor Ardi berlalu Tika segera masuk rumahnya. Menghempaskan diri ke tempat tidur, menerawang jauh di langit-langit
‘Ardian Prasetyo’ gumamnya….
Dering Hp Tika membuyarkan lamunannya, ternyata Ana yang menelpon
“kenapa Na?”Tanya Tika menjawab panggilan masuk teleponnya
“Cieee… yang lagi falling in lovee….” Ejek Ana
“Gue ga lagi falling in love sama Ardi ya!” Tegas Tika
“Dihh, gue kan ga bilang Ardi Tik?” sindir Ana
“Ya.. ta..tapi pasti maksud lo kesitu kan?” sanggah Tika
“hehehheheh…. Gimana dia udah chat lu belom?” Tanya Ana
“Belom Na…” Jawab Tika sedih
“Jangan sedih juga kali Ka…”sindir Ana lagi…
“Heh, lu mau telepon gue atau mau sindir gue nih??”
“hehhehe sorry, ya kalo dia belum chat, ya lu aja yang sms duluan Ka…” usul Ana
“Ah ngga ah! Gila lu….” Bantah Tika
“Ya lu bikin alibi lah…” usul Ana lagi
“Alibi apa?” Tanya Tika tidak mengerti, Tika memang kurang ahli dalam masalah cinta
“Ya lu chat aja, makasih ya udah anter gue pulang, lu udah dirumah belum? Gitu aja sih…”
“Ah ga pede ah gue…..” kata Tika lesu.
“Ya elah, juara aikido masa ga berani sama cowok” sindir Ana, Tika hanya diam
“Eh, lu bukan nya suka sama Ardi??” Tanya Tika
“Ah lu kayak ga kenal gue aja Ka, lagian Ardi tuh kalo dibandingin yang lain masih termasuk kudet lagi, alias Kurang Update..” Jelas Ana, “Yaudah sih buruan chatnya….” Sambung Ana
Akhirnya Tika memberanikan diri untuk menghubungi Ardi lewat WA, isi WA nya seperti yang di contoh kan Ana tadi. Dan tak lama pesan pun terkirim.
“Aduhh, kok dia belum bales ya? Apa udah tidur? Atau jangan-jangan dia ilfil karena di chat duluan? Jangan-jangan di mikir gue ini cewek agresif?? Ya Tuhan….. jangan sampe dia berfikiran kayak gitu…. Atau jangan-jangan dia kecelakaan?? TTTTIIIIDDDDDAAAAKKKKKK………. !!!!!”
Tak lama HP Tika bergertar, tanda WA masuk ‘maaf, aku baru sampe rumah. Iya sama-sama’. Begitu bunyi sms nya.
“Huuufffffttttttt” Tika membuang nafas lega “Gue harus jawab apa lagi nih ya?” Tanya Tika pada diri nya sendiri, sampai akhir nya ia pun tertidur.

Hari ini adalah hari libur, dimana Tika tidak ada jadwal kuliah tapi ia harus tetap kerja sambilan di sebuah kafe kecil dekat rumah nya. Pagi hari ia sudah berangkat. Kerja sambilan di sebuah kafe kecil adalah kegiatan favorite Tika, meskipun penat dan lelah tapi pemilik nya adalah orang yang penyayang dan sudah menganggap semua pegawai nya termasuk Tika seperti anaknya sendiri. Siang itu sangat terik cuaca nya seragam Tika sampai basah kena keringatnya. Hari itu ada seorang pemuda yang singgah di kafe itu.
“hot cappuccino nya 1 ya” ucap pemuda itu, ‘Hah? Gila… siang-siang gini pesen minuman panas…..’ gumam Tika
“Ada lagi pesanan nya Pak?” Tanya Tika
“Sementara itu aja” jawab pemuda itu
Tika pun segera membawa pesanan pemuda itu ke dapur. 7 menit kemudian pesanan pemuda itu datang, segera Tika mengantarkan kepada pria itu.
“Silahkan”
“Siapa nama kamu?” Tanya pemuda itu
“Hah, kenapa Pak?” , pemuda itu tersenyum “Siapa nama kamu?” ulang pemuda tadi
“Ti..Tika” jawab Tika
“Baiklah Tika, nanti kalau saya ada keperluan saya akan panggil kamu lagi” Jelas pemuda tadi
“Baik Pak” jawab Tika sambil permisi pergi
“Hmmm Esmud tuh!”celetuk Vivin
“Hah? Siapa?” Tanya Tika
“Itu yang tadi lu anter minumannya…” Jelas Vivin
“Oh… iya kali, ga tau gue” jawab Tika sambil meneruskan pekerjaannya
Tak lama kemudian pemuda itu memanggil Tika lagi, “Ada yang bisa saya bantu Pak?” Tanya Tika
“Hmm, iya apakah disini bisa membuatkan saya resep ini?” kata pemuda tadi sambil menunjukan hasil browsingannya di internet
“Brownis kukus pisang coklat” Tika membaca judul resep masakan tersebut
“Disini sih tidak ada menu seperti ini Pak, tapi saya coba bicarakan ke kepala koki kafe ini sebentar ya Pak..”
“Silahkan” jawab pemuda itu. Segera Tika bicarakan pada Ary, kepala koki restoran itu.
“Hah? Ngerepotin aja Tik…!” keluh Ary
“Tika ga tau mas, dia minta nya begitu….” Jawab Tika memelas
“Yaudeh, lu bikin dah sendiri… bahan-bahan nya kalo itu doang mah ada.” Kata Ary
“Hah? Siapa mas yang bikin??” Tanya Tika lagi
“Ya eluu lah… gue lagi sibuk” jawab Ary
“Yaelah mas Ary, Tika mane bisa bikin giniann…..”seru Tika
“Lu ikutin aja resepnya Tikaaaa” seru Ary
‘hyuufffhh, gue? Masak? Hah gila… gue aja bisa masak mie instant doang bisa nya. Pengunjung sial, ngerepotin gue aja!’ umpat Tika

Dua jam berlalu, akhirnya Tika berhasil menyelesaikan tugas nya.
“Maaf Pak, saya baru selesai” kata Tika
“Yah, tidak apa” jawab pemuda itu, Tika pun memberikan kue nya pada pengunjung itu
Pertama yang dilakukan pengunjung tersebut pada kue Tika adalah memperhatikan kuenya. ‘hah, sial… pake diliatin segala! Lu fikir itu kue monster apa ?! emang sih, serem… gosong gitu… Tapi wajar dong, kan bukan gue koki nya!’ celoteh Tika dalam hati. Akhirnya pemuda itu mengambil sendok, memotong pinggiran kue nya dan memakan satu suapan pertama. Dan reaksi pemuda tersebut adalah….
“Hahahahhahahha” pemuda itu tertawa
‘Cih, sial…’Umpat Tika, “Ga enak ya Pak?” Tanya Tika. Pemuda itu masih terkekeh-kekeh, karena kesal di tertawakan Tika memilih pergi, namun…
“Maaf, maaf saya bukan menertawakan kue yang kamu buat” kata pemuda itu sambil menahan tawa
“Lalu?”
“Kamu pernah liat film kartun?” Tanya nya
“Kartun?” ulangi Tika tidak mengerti
“Iya, kartun… di film-film kartun kan ada kalau tokoh utama nya bikin masakan gitu, luar nya emang jelek, tapi saat dimakan rasanya luar biasa enak” jawab pemuda itu
“Hah? Jadi kue saya enak, Pak ?” Tanya Tika penuh harap
“Hihihi, nih kamu coba sendiri” jawab pemuda itu sambil menyuapi Tika, Tika pun menyicipi dengan bangga dan senang. Sampai kemudian
“Hmph, bagaimana??” Tanya pemuda itu
“Ueeeekkkk, pahit Pak” jawab Tika
“Hahahahhahaahhahaha” si Pemuda tertawa makin kencang
‘Sialan, gue dikerjain! Gila nih pengunjung, baru keluar dari Rumah Sakit Jiwa mane nih” gerutu Tika
Karena kesal ditertawakan Tika memilih pergi meninggalkan pemuda itu.
Beberapa menit kemudian, pengunjung itu pergi. Tika membereskan tempat pemuda itu duduk. “Heh, dia bilang kue gue ga enak, tapi abis tanpa sisa begini? Haduuuhhhh…. Rakus apa laper tuh orang. Bagus deh, jadi Eddy ga perlu cuci piring lagi nih” celotehh Tika, disaat yang sama Tika menemukan pesan yang ditinggalkan pemuda tadi.

Terima kasih atas jamuannya,
Kue yang tak akan pernah saya temukan di toko kue lain
Fandri


‘Heh, ini pujian atau gue jadi bahan tertawaan buat dia nih??’ umpat Tika kesal namun kertas itu dimasukan dalam kantung celananya.
Malam nya saa Tika sampai kamar nya Tika bersiap mandi dan menemukan lagi kertas itu dalam baju nya dan membaca lagi tulisan singkat dalam kertas itu. ‘Fandri??? Siapa ya? Rasanya ga pernah kenal, ganteng sih, dan mungkin bener kata Vivin, dia itu esmud. Dari pakaiannya aja rapih banget. Ah udah lah, semoga aja gue ga ketemu pengunjung macem begitu lagi’ gumam Tika dalam hati nya dan bergegas mandi.



Esok nya di kampus saat istirahat.
Ardi, Ronald, Risa, Ana dan Tika sedang berkumpul membicarakan acara Bakti Sosial yang akan mereka lakukan,
“Jadi kita tentuin lokasi nya di lima titik  di Jakarta,  cari di perempatan Jalan atau tempat-tempat kumpul para esmud, ya kali aja dapet dana labih” usul Ronald
‘Iya, gue juga setuju, kali aja ada esmud yg nyantol sama gue” sambung Ana
‘Esmud…’ fikiran Tika jadi teringat pada Fandri
“Gimana Tik?” Tanya Ana membuyarkan lamunan Tika
“ Hmm Kalo gue juga setuju sih, kita bagi aja perkelompok biar dana yg terkumpul cepet dan kita juga ga terlalu capek ngiterin Jakarta” Usul Tika. Namun saat itu Ardi hanya diam menyimak tanpa berkata apapun, mungkin kondisi nya masih blm terlalu fit sehabis di Tune-Up kemarin, seperti nya hanya Tika yang sadar akan kondisi Ardi.

“Ardi sakit?” Tanya Tika pelan saat pertemuan itu selesai
“Ah tidak..” jawab Ardi singkat
‘ Buset nih orang, singkat banget jawabnya, ga tau gue lagi kasih ‘kode’ apa ya??’ umpat Tika dalam hati “Kalo sakit, sini gue anter pulang aja” usul Tika
“Tidak perlu, aku ga sakit kok. Lagipula kamu mau anterin saya naik apa?’ Tanya Abie
“Naik motor lu lah”
“Bisa?”
“Lu diem aja, dan liat gue bawa motor” seru Tika sambil menarik tangan Ardi
Setiba di tempat parkir,
“Lu jangan GR ya, gue nganterin lu pulang bukan karena gue suka sama lu, tapi karena gue pengen gantian aja, lu kan dulu pernah anterin gue pulang jadi biar impas… dan lagi kan rumah lu deket sama tempat kerja sambilan gue, jadi sekalian…. Ga ada alesan lain!!” jelas Tika ‘ dan lagi kalo gue nganterin lu, gue bisa lebih lama deket sama lu’ gumam Tika dalam hati.
“Baiklah gue ngerti, tapi sebelum kita berangkat pakai dulu helm nya. Karena kalo sesuatu terjadi padamu karena hal ini, saya tidak bisa memaafkan diri saya sendiri” Ucap Ardi sambil memasangkan helm pada Tika.
‘Oh my God, ini gue ga salah denger kata-kata nya tadi apa? Heloooowwww?? Bisa tolong di ulangin ga tadi lu ngomong apa? Gue mau rekam kata-kata lu tadi dan mau gue siarin ke semua media elektronik di Indonesia kalo Cuma lu satu-satunya cowok romantis yang kasih gue kata-kata itu’ Tika tidak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan Ardi barusan
Setelah itu tika mengantar Ardi kerumah nya sepanjang jalan Tika tidak bisa berkonsentrasi dengan motor dan jalanan, bagaimana mungkin Tika berkonsentrasi sementara ada lelaki yang bersandar lemah dibelakang punggungnya. Tak selang lama mereka tiba di tempat tinggal Ardi, karena kondisi Ardi yang sudah melemah Tika membantu Ardi sampai kamar nya.
“Ardi, kita sudah sampai didepan kamar kost kamu” bisik Tika
“Ah, iya.. Sampai sini saja kamu mengantarku” jawab Ardi
“Kamu yakin bisa sendiri?” Tanya Tika khawatir
“Ya, aku tidak apa-apa” Jawab Ardi, Tika hanya diam. Ardi sudah membuka kunci kamar nya dan masuk, Tika masih berdiri terpatung didepan pintu kamar Ardi. Namun baru 3 langkah Ardi masuk kamar tiba-tiba
BRUUUUUKKKKKKKK…..
Ardi pingsan
“Astaga Ardi…!” Tika segera menghampiri Ardi, Tika membopong Ardi sampai ke ranjang dan membaringkannya. Dipegang kening Ardi dan terasa dingin
“Ya ampunn, badannya terasa dingin” segera Tika mengambil pemanas ruangan dan menyalakannya agar suhu tubuh Ardi lebih stabil. Tika kebingungan, dikamar tersebut tidak ada nomer yang bisa di hubungi.  sambil mencari-cari nomer  keluarga Ardi , Tika menyiapkan makanan untuk Ardi, jadi saat ia bangun Ardi bisa segera makan, begitu fikir Tika. Ia mengamati betul kamar Ardi. Cat kamar nya hanya hitam dan putih, benda-benda disana pun tertata rapi. Tika tertarik pada meja yang disudut kamar Abie, ternyata ada laptop dan penuh buku. ‘pantas saja ia bisa menjawab semua pertanyaan dosen, hidupnya dipenuh buku seperti ini’ kagum Tika. Kumpulan buku-buku Ardi tidak jauh dari buku mata kuliah mereka, namun ada sesuatu yang menarik perhatian Tika, itu adalah poster ViCo yang tertempel di dekat meja bejar Abie. Dibawah kolong meja juga ada beberapa buku yg diantara nya berjudul, “Visi Misi VierCorporation”, “Jasa VierCorporation”
“VierCorporation?” gumam Tika, karena asing baginya mendengar nama perusahaan tersebut, jelas saja, ViCo adalah perusahaan besar dan rahasia. Rakyat biasa seperti Tika tidak mungkin tahu mengenai ViCo.
“Tok Tok….” Pintu kamar Abie di ketuk
Saat Tika membuka pintu tersebut ternyata teman sebelah kamar Abie
“Lho lo siapa ya?” Tanya nya
“Eh, gue Tika” jelas Tika
“Waah hebat juga, gue kira Ardi ga pernah masukin cewek ke kamar, ga taunya pernah juga….” Celetuk Momoy
‘Sialan nih orang, lu fikir gue apaan!’ umpat Tika
“Gini ya sepertinya lu salah, yang pertama gue Tika, temennya Ardi. Gue lagi jagain Ardi yang tadi pingsan. Ga mungkin tau-tau gue ninggalin dia sendirian” jelas Tika
“Ardi Sakit?” Tanya Momoy lagi
“Iya, tapi gue bingung mau hubungin siapa..” mereka terdiam sesaat
“Coba aja lu telpon Dr.Fandri” usul Momoy
“Dr. Fandri?” ulang Tika
“Iya, waktu Ardi Sakit Dr. Fandri yang nanganin langsung Ardi” jelas Momoy lagi
‘Gila, punya dokter pribadi segala nih orang???’ ucap Tika dalam hati. “Terus gimana caranya gue hubungin Dr. Fandri?”  Tanya Tika
“Lu coba cari di alamat email di laptop nya aja, yaudah ya gue masih mau berangkat” ucapnya sambil berlalu
“ooh, Ok Thanks”
Dengan segera Tika membuka laptop nya Abie, namun ada passwordnya
“Sialll, ada password nya lagi!! Apa ya….” Tika berfikir sejenak
“ARDIAN PRASETYO…” Tika mengetik nama itu, tapi..
“Hah salah !!! apa ya…. Jangan-jangannnn….”
ATIKA NINGSIH ketik nya sambil malu-malu
“Hah masa sih? Kayaknya ga mungkin banget password dia nama gue” kata Tika sebelum menekan enter
“coba aja lahh!” seru Tika dan….
“Salaaahhhh!!!”
“RD 649” Tika membaca tulisan yg tertempel di dinding dan mengetikkannya dan berhasil….
Kemudian Tika membuka email-email Abie dan menemukan contact Dr. Fandri, dengan segera Tika menelpon Dr. Fandri
“Haloo?” suara Dr. Fandri di sebrang telpon
“Ha..halo ini benar Dr. Fandri?” Tanya Tika
“Iya, maaf dengan siapa saya bicara?”
“Saya Tika, temannya Ardi. Ardi sakit dok,” jelas Tika
“Ardi?”
“Eh maksud saya Ardian Prasetyo dok” jelas Tika lagi
“Oh.. sakit apa?”
“Tidak tau dok, Ardi pingsan soal nya, dari di kampus juga kelihatannya sudah sakit” jelas Tika lagi
“Baik, saya segera kesana” kata Dr. Fandri sebelum menutup telponnya.

Sambil menunggu Dr. Fandri, Tika duduk di samping ranjang Abie, memperhatikan Ardi. Tak lama Ardi membuka mata.
“Ardi!” seru Tika
“Tika? Kenapa kamu masih disini?” Tanya Ardi Heran
“Tadi aku mau pulang, tapi kamu pingsan. Jadi aku tunggu kamu sampai kamu sadar dan sehat dulu” jelas Tika”
“Aku ga apa-apa kok Tika, aku baik-baik aja” jelas Ardi
“Ga Di ! kamu sakit… Tenang aja, aku udah telpon Dr. Fandri buat periksa kamu” Jelas Tika
‘Fandri? Tika ga boleh ketemu Fandri, saya tidak sakit saya hanyaaa….’dan akhirnya Ardi tidak sadarkan diri lagi. Sebenarnya memang Ardi tidak sakit parah, ia hanya perlu di charge, tidak mungkin Tika melihat Ardi tidur dengan kabel terhubung padanya.
Melihat Ardi yang pingsan lagi membuat Tika makin khawatir, ia baru saja ingin menelpon Dr. Fandri lagi karena terlalu lama tapi pintu kamar Abie sudah ada yang mengetuk dan dengan segera  Tika membuka pintu. Dan ternyata Dr. Fandri adalah
“Kamu..???!!!” seru Tika
“Kamu kan penjual kue yang pahit disana kan?” seru Dr. Fandri
“Heh, anda jangan sembarangan ya… lagian kamu ngapain disini? Teman saya sedang sakit, saya tidak ada waktuu untuk mengurusi orang seperti anda! Saya sedang menunggu dokter! Paham ?!!” bentak Tika
“Saya sangat paham dengan ucapan manis Nona dan suatu kehormatan bila saya ternyata sedang ditunggu-tunggu oleh orang seperti Nona. Permisi” Ucap Fandri sambil masuk ke kamar meninggalkan Tika di depan pintu.
“hah? Dia bilang apa?? Jadi yang tadi itu….”
“Sebentar, jadi kamu adalah Dr, Fandri” Tanya Tika heran
“Yup” jawab Fandri singkat, seketika itu juga wajah Tika berubah kemerahan antara menahan malu atau kesal, malu karena orang yang dibentaknya tadi adalah orang yang ia harapkan kedatangannya dan kesal karena ternyata orang yang menyebalkan tempo hari adalah orang yang ditunggu nya saat ini.
Fandri memeriksa keadaan Ardi, tentu saja bukan menggunakan stetoskop.
‘Hanya Lowbat’ gumam Fandri
“Baiklah Nona cantik, sekarang saat nya kamu pulang” kata Fandri
“Ta..Tapi Dok saya khawatir terhadap teman saya ini” tolak Tika
“Saya tidak bisa bekerja kalau ada orang-orang berisik di sekitar saya” jelas Fandri lagi sambil mendorong Tika keluar
“Tapi Dok…” belum sempat Tika melanjutkan kata-kata nya pintu kamar Abie sudah dikunci oleh Fandri
“Sial… Apa-apaan dokter itu?! Tidak bisa kerja kalo ada orang berisik? Halah paling dia dokter gadungan!!” Umpat Tika kesal. Akhirnya dengan langkah malas Tika berjalan pulang, dia sudah tidak mood untuk kerja sambilan dan akhirnya bolos kerja dan pulang untuk tidur.


Sementara itu Ardi,
Dr. Fandri menyambungkan kabel charger ke tubuh Abie, Sekitar 2 jam setelahnya Ardi sadar, walaupun masih agak lemah.
“Berapa hari kamu tidak mencharger tubuh mu?” Tanya Fandri
“Tiga hari, Dok” jawab Ardi singkat
“Kamu tidak lupa untuk mencharger tubuhmu sendiri kan?” Tanya Fandri lagi
“Tidak Dok, hanya saja….”
“Hanya apa?
Ardi terdiam
“Hanya saja saya kira masih cukup untuk satu hari lagi” Jawab Abie asal
“Dan ternyata perhitungan mu salah?” duga Fandri
“Hmph, yah begitu lah” jawab Ardi sekenanya
“Apa ada keluhan lain?” Tanya Fandri
“Ada Dok, bagian Sini..” kata Abie sambil menunjuk hati nya, kemudian Fandri mengecek tubuh Ardi
“Wah, bagian dalam mu sedikit ada yang hangus” kata Fandri
“Oh ya…?”
“Ya.. tapi tidak parah. Apa ada sesuatu yang membuatmu menjadi panas seperti ini?” canda Fandri. Ardi hanya diam.
“Ok sudah selesai, hanya tinggal menyetel ulang beberapa komponen” Ucap Fandri lagi
“Apa sangat parah, Dok?” Tanya Ardi
“Tidak, hanya gangguan ringan dan ada bagian yang hangus” jawab Fandri
Setelah  selesai memperbaiki Ardi, Fandri meminta Ardi untuk mencharge tubuh nya total agar tubuhnya tidak drop dan meminta Ardi untuk istiharah dirumah layaknya manusia lain yang sedang sakit.
Setelah Ardi istiharat total, Fandri mengamati kamar kost Abie. Betapa terkejutnya Fandri saat tiba didapur. Ternyata ada semangkuk bubur yang sudah jadi.
‘Mungkin bubur ini dibuat oleh anak tadi’ gumam Fandri tak lama Fandri membawa bubur itu keluar kamar dan membuangnya ditempat sampah
“RD 649 tidak membutuhkan ini” Ucap Fandri Sinis
Tak lama setelah membuang makanan tersebut Fandri pulang.
Sementara itu dirumah Tika tidak bisa tenang memikirkan kondisi Abie.
“Bagaimana mungkin pasien bisa sembuh kalo dokternya aja kayak gitu?!” umpat Tika lagi
“Haaahhh bisa stress nih gue kalo begini! Kalo gue ga tenang gini mending gue chat Ardi untuk tahu langsung bagaimana kondisinya”
Kemudian Tika mengirimkan WA yang berisi:’ Ardi, gimana keadaan kamu? Sudah sehat belum?’ 10 menit berlalu, WA Tika belum ada jawaban dari Ardi. Bahkan sampai Tika ketiduran WA nya belum dibalas juga.
Esok nya melihat SMS nya tidak dibalas, Tika berniat menjenguk Ardi lagi sebelum pergi ke kampus.
“Ardi, Ardi…” panggil Tika sambil mengetuk pintu kamarnya 3 menit berlalu tapi Abie belum menjawab
“Mungkin masih tidur” kata Tika pelan saat akan beranjak pergi Tika terkejut melihat tempat sampah di depan kamar Ardi
“Ini kan bubur yang gue bikin semalem? Kok dibuang? Apa Ga enak? Atau mungkin dia ga suka? Kok jahat banget dia sama gue?? Apa dia ga tau, gue bikin ini tuh ga gampang?!!” ucap Tika sambil menahan tangis
Dengan rasa sakit hati yang mendalam Tika akhirnya meninggalkan tempat tinggal Abie menuju kampus. Dikampuspun Tika merasa tidak bersemangat.
“Kenapa Tika?” Tanya Ana
“Ga kenapa-kenapa An” jawab Tika lesu
“Apa karena Ardi sakit? Jadi lu mikirin dia ya?” Tebak Ana, mendengar nama Ardi disebut Tika langsung emosi
“Udahlah An, jangan sebut nama dia lagi! Orang ga tau terimakasih kayak dia emang pantes kalo sakit lama!” Umpat Tika sambil berlalu, Ana kebingungan melihat tingkah sahabatnya tersebut.
Saat ditempat kerja sambilan pun Tika tidak semangat, bahkan cenderung banyak melamun, sampai dia melihat sosok yang amat dikenalnya sedang berdiri tak jauh darinya. ‘Ardi..’ gumam Tika
“Hai..” sapa Ardi
Dengan langkah lesu Tika melangkah mendekati Ardi
“Sudah Sembuh?” Tanya Tika, dia memang kecewa melihat bubur buatannya ada di tempat sampah namun sepertinya rasa khawatirnya lebih besar
“Hmm seperti yang kamu lihat, saya sudah bisa berjalan menemui kamu” jawab Ardi dan wajah Tika seketika menjadi merah
“Terimakasih ya..” Kata Ardi lagi
“Untuk apa?”
“Ya karena kamu sudah merawat saya, jika bukan karena kamu mungkin saat ini saya masih terbaring”
“Oh.. Iya” jawab Tika
“Sudah selesai kerja sambilannya” Tanya Ardi
“15 menit lagi selesai. Kenapa?”
“Sebagai ucapan terima kasih saya, saya ingin mentraktir kamu”
“Ah tidak perlu, aku ikhlas kok bantu kamu” Tolak Tika sopan
“Jadi kamu menolak?” Tanya Ardi tajam
‘Aduh, gimana nih, gue mau banget pergi bareng lu tau. Tapi gue masih kesel. Kenapa sih lo tega banget sama gue Ardi?’ ucap Tika dalam hati
“Jadi?” Tanya Ardi lagi memecah lamunan Tika
“Ya.. Ya boleh lah kalo kamu nya maksa” jawab Tika cepat
“Yaudah, kamu siap-siap aja. Saya tunggu di bawah” kata Ardi lagi dan dibalas anggukan kepala oleh Tika

20 menit kemudian Tika sudah menghampiri Abie.
“Maaf ya kalau saya lama” kata Tika
“Tidak apa, kita ingin pergi kemana?” Tanya Abie



(Bersambung) 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar